WA 0895634422166|cs@invesh.id

3 Keuntungan Saham per Bulan serta Resiko Bermain/Investasi Saham di Bursa

Apakah keuntungan dan resiko apabila berinvestasi dengan membeli saham? Nah, di artikel ini akan dibahas berapa keuntungan saham per bulan, khususnya untuk teman2 yang masih pemula.

Jadi, keuntungan bermain saham itu sebenarnya ada 3, berdasarkan yang penulis pahami selama ini. Di antaranya adalah:

  1. Dividen
  2. Capital Gain
  3. Bebas Inflasi

Hampir semua pakar dalam trading saham mengatakan bahwa saham merupakan investasi yang ‘high risk, high return!’

Artinya, jika ingin bermain saham maka wajib tau kalau jenis investasi ini resikonya tinggi, sekaligus menjanjikan keuntungan yang besar juga. Bahkan, bisa penulis katakan bahwa inilah investasi yang nilai keuntungannya paling tinggi.

Mengapa saya katakan demikian?

Ya, karena dalam banyak kasus saham inilah yang mampu mengantarkan investornya menjadi orang terkaya di dunia, bahkan yang no #1 di planet ini.

Tokoh yang penulis maksud adalah Warren Buffett. Dialah investor saham kawakan yang berhasil jadi orang terkaya no 1 di dunia dari modal yang sangat minim saat memulai investasinya.

Selain itu, ada juga Bill Gates yang mungkin banyak orang hanya mengenalnya sebagai pemilik Microsoft. Tapi tidak hanya itu, karena beliau juga bisa dibilang murid dari Warren Buffett yang kemudian juga bisa sukses dari investasi saham.

Banyak yang mengatakan, bahwa seandainya Bill Gates tidak berinvestasi saham, maka bisa jadi namanya tidak lagi masuk dalam daftar 10 orang terkaya di dunia hingga hari ini.

Nah, itu dia perkenalan kita soal keuntungan trading saham, sekarang mari kita bahas satu per satu maksud dari ketiga yang disebutkan di atas.

Keuntungan Saham per Bulan Jika Seseorang Berinvestasi atau Trading Berapa Sih?

Di atas sudah disebutkan beberapa jenisnya, ada tiga jenis. Nah, sekarang apa dan bagaimana memperoleh ketiga keuntungan tersebut.

1. Dividen

Kalau yang satu ini, keuntungannya tidak didapat per bulan, tapi sekali setahun atau pada musim bagi-bagi dividen dari beberapa perusahaan.

Rata-rata besaran dividen yang didapat adalah dikisaran 2%-5% saja.

Lha, kok sedikit banget? Apa gak salah tuh? Ya, betul sekali. Memang hanya segitu.

Tapi jangan salah. Keuntungan segitu mungkin terlihat sedikit, tapi itu kalau baru membeli sahamnya di tahun tersebut. Sedangkan bagi orang yang sudah membeli dan memegang sahamnya 10 tahun terakhir dan harga sahamnya sudah naik beberapa kali lipat, maka profit yang didapat bisa jauh lebih tinggi dari deposito bank.

Cara menghitungnya seperti ini:

Misalnya, Teguhhidayat membeli saham seharga Rp1.000 per lembar di tahun ini, sedangkan rata-rata dividend yang dibagikan anggaplah sebesar 3%. Dan bila misalnya pak Teguh ini membeli 500 lot (per lot 100 lembar), maka besar modal dan keuntungannya adalah masing-masing Rp5.000.000 (lima juta) dan Rp150.000 (seratus lima puluh ribu).

Jadi, Rp5 juta di dapat dari hasil perkalian 500 lot, yaitu 500 x 100 = 5000 lembar saham, kemudian 5000 x Rp1.000 dari harga sahamnya maka hasilnya adalah Rp5 juta.

Adapun hasil dividen Rp150.000, maka itu didapat dari 3% dari Rp5 juta tersebut.

Oke, anggaplah pak Teguh hanya dapat dividen sebesar Rp150.000 di tahun pertama dia berinvestasi saham. Tapi, jika misalnya sahamnya naik hingga beberapa kali lipat, kita anggap saja 3 kali lipat, yaitu dengan harga Rp3.000 per lembar, maka keuntungan dividennya juga demikian, naik menjadi setara dengan 9% per tahun.

Kenapa bisa begitu?

Ya, karena yang kita hitung adalah modal awalnya di harga Rp1.000 yang kemudian menjadi Rp3.000 per lembar.

Dan faktanya, memang banyak saham yang harganya bisa naik bahkan berkali-kali lipat dalam beberapa tahun setelahnya.

So, jangan pandang enteng nilai dividen yang kecil karena itu akan terus bertambah dari tahun ke tahun, selama saham yang dipilih tepat.

Belum lagi, kalau misalnya anda bisa berhasil untung dapat dividen dengan hanya memegang sehari saja saham tertentu. Ini ada rahasianya, nanti kita bahas lebih lanjut.

Baca juga: Hukum Investasi Saham dalam Islam dan Menurut MUI

2. Capital Gain

Keuntungan investasi saham yang satu ini kurang lebih sama dengan berdagang pada umumnya.

Misalnya seseorang membeli saham ABCD hari ini seharga Rp5.000 per lembar, kemudian setelah beberapa hari atau bulan harganya naik jadi Rp5.300 dan kemudian ia menjualnya. Nah, selisih dari harga penjualan dengan harga beli saham tersebutlah yang dinamakan capital gain.

Kalau kita hitung profit trading di atas, maka ada keuntungan Rp300 atau 6% dari per lembar sahamnya, tergantung berapa jumlah lot saham yang dibeli.

Dan sebenarnya, jenis keuntungan inilah yang paling banyak jadi tujuan investasi banyak trader di bursa efek Indonesia.

Mengapa demikian?

Karena, berbeda dengan dividen, capital gain bisa didapat kapan saja. Selama harga jualnya sudah lebih tinggi dari harga belinya maka kita bisa menjualnya saat itu juga. Tak peduli itu baru seminggu, sehari, bahkan walau baru dibeli beberapa menit yang lalu.keuntungan saham per bulan

Itu artinya, jika nilai 6% di atas bukan harus menunggu setahun, tapi kapan saja saham yang dibeli sudah untung maka bisa langsung dijual.

Bayangkan saja, kalau harga saham dalam sehari bisa naik hingga 35% dan si investor punya modal milyaran, maka gak kebayang kan keuntungannya per bulan ada berapa?

Tapi, itu kalau dia sudah berpengalaman. Karena, dalam bermain saham, tidak selalu untung yang didapat, ada jug aresiko kerugian yang harus ditanggung kalau salah menganalisa dan timing belinya tidak pas.

Dalam prakteknya, trader yang sudah berpengalaman dan punya jam terbang trading yang sudah banyak, maka keuntungan rata-rata per tahunnya sebesar 15%-30%.

Kalau kita menghitung keutungan saham per bulan, maka tinggal bagi saja 15% sampai  30% per tahun tersebut. Jadi hasil bermain saham kurang lebih sebesar 1,25% sampai 2,5% per bulan.

So, yang harus diketahui dalam capital gain ini adalah keuntungan maksimalnya dalam sehari sebesar 35% dan bisa didapatkan setiap hari selama harga sahamnya sudah naik, minimal di atas biaya fee trading-nya.

3. Bebas Inflasi

Keuntungan bermain saham ini tidak berwujud, seperti dua jenis keuntungan saham sebelumnya.

Maksudnya begini, kalau teman-teman menabung uangnya dengan tabungan biasa saja di bank, maka walau angka uangnya tetap seperti itu, tapi sebenarnya nilainya terus berkurang dari tahun ke tahun.

Kenapa bisa seperti itu? Ya, karena setiap tahunnya terjadi inflasi, yaitu penurunan nilai mata uang karena naiknya harga barang-barang.

Besarnya inflasi di Indonesia rata-rata 3%-5% per tahun. Bahkan dengan pemerintahan yang baru ini bisa menekan hingga 3% saja per tahun.

Sama halnya, orang tua saya dulu kalau ke pasar hanya bawa uang Rp100 saja sudah bisa bawa pulang 2 kantong plastik belanjaan. Tapi coba bandingkan sekarang, uang segitu parkir saja tidak cukup kan?

Nah, seperti itu juga keuntungan investasi saham dari bebas inflasi yang penulis maksud. Jadi selain dividen dan capital gain, kalau kita nabung saham atau bermain saham maka paling tidak kita terhindar dari penurunan nilai uang kita, dalam hal ini inflasi.

Oke sobat InveshID, itulah keuntungan bermain saham atau keuntungan saham per bulan yang bisa kita ulas hari ini. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Selamat berinvestasi syariah dan cuan dari saham!

By |Categories: Saham|Tags: |

About the Author:

Semua investasi ilmu dan ikhtiar ini hanya untuk mengabdi pada-Nya, sang Mahatahu. Dan goals terbesarku dalam petualangan di dunia maya adalah membangung lembaga pendidikan Qur’ani, semata menjalankan perintah Iqra'Nya, akar dari segala kesuksesan dunia dan akhirat.

Leave A Comment

[/fusion_text]
BUY AVADA NOW!
[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

This Is A Custom Widget

This Is A Custom Widget

This Sliding Bar can be switched on or off in theme options, and can take any widget you throw at it or even fill it with your custom HTML Code. Its perfect for grabbing the attention of your viewers. Choose between 1, 2, 3 or 4 columns, set the background color, widget divider color, activate transparency, a top border or fully disable it on desktop and mobile.