WA 0895634422166|cs@invesh.id

Hukum Bermain Saham? Hukum trading, Jual Beli, Investasi Saham dalam Islam & MUI

Sebelum bicara panjang lebar soal hukum bermain saham dalam Islam serta hukum trading dan jual beli saham menurut MUI, maka teman InveshID ada baiknya saya bercerita dulu soal perbandingan saham dengan bisnis pada umumnya.

Dalam kehidupan nyata, investasi saham kurang lebih sama jika seseorang yang punya bisnis dan ingin memperoleh pendanaan dengan cara tidak mengajukan kredit di bank, melainkan dengan sistem bagi hasil. Pihak pemodal yang meminjamkan pada si pemilik usaha tersebut sama statusnya dengan orang yang membeli saham di bursa.

Nah, praktek seperti di atas sebenarnya itulah yang dijalankan dalam praktek jual beli saham, dimana para pemilik bisnis melakukan IPO atau penawaran saham perdana, dan para pemilik modal kemudian membeli saham IPO tersebut. Dan kemudian memperoleh dividen atau capital gain dari investasinya.

Ada yang pernah bertanya ke penulis begini, “Pak, kan saat trading saham secara reguler, maka dana perusahaan tidak bertambah lagi, tapi perubahan harganya hanya karena demand and supply saja. Apakah itu bisa dibilang spekulasi?”

Transaksi yang berjalan di pasar reguler setelah terjadi IPO, pada dasarnya itu adalah cara agar terlaksananya pasar. Dan sesuatu yang tidak bisa berjalan kecuali dengan keberadaannya, dalam hal ini transaksi di pasar reguler, maka dengan sendirinya menjadi wajib juga.

Berikut dalail pernyataan di atas, sesuai dengan Kaidah Ushul:

ما لا يتم الواجب الا به فهو واجب

“Sesuatu yang diwajibkan menjadi tidak sempurna kecuali dengan keberadaannya, maka hukumnya wajib.”

Maksud kaidah ushul di atas adalah bahwa praktek IPO saham yang tidak bisa sempurna tanpa adanya aktivitas transaksi saham di pasar reguler, maka dengan sendirinya transaksi di pasar reguler tersebut menjadi wajib juga.

Contoh konkritnya juga seperti ini, jika seandainya orang yang membeli tanah atau rumah dengan sertifikatnya, tidak boleh memperjualbelikan tanah dan sertifikatnya, maka besar kemungkinan tidak akan ada orang yang tertarik berinvestasi tanah dan rumah tersebut.

Lalu Bagaimana Hukum Bermain Saham Online atau Hukum Trading/Jual-Beli Saham dalam Islam dan MUI?

Membeli saham adalah bagian dari investasi dan investasi secara umum adalah halal dalam Islam. Selama tidak melanggar ketentuan syar’i.

Pada prinsipnya ada beberapa hal yang membuat sebuah saham haram diperjualbelikan, yaitu:

  1. Jenis perusahaannya
  2. Cara penawarannya
  3. Model transaksinya

Nah, ketiga faktor tersebutlah yang menentukan apakah sebuah saham haram atau halal dalam pandangan MUI dan Islam.

Oke, mari kita bahas satu per satu. Biar jelas dan semua bisa paham hukum investasi saham dalam Islam yang sebenarnya.

1. Jenis Perusahaannya

Tidak ada cara yang tepat untuk menilai ini kecuali dengan merujuk pada pandangan MUI. Karena, MUI sendiri menggunakan dalil Al-Qur’an dan Hadis Nabi saw. dalam mengambil keputusan.

Dan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang merujuk pada rekomendasi Dewan Syariah MUI, memberikan dua kriteria utama, yaitu:

A. Dari sisi kegiatan usahanya

Ada beberapa yang menjadi sorotan OJK dalam hal ini, yaitu:

  1. Perjudian dan permainan yang mengandung judi.
  2. Perdagangan atau jual beli yang dilarang menurut hukum syariah, antara lain: perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu dan perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang/jasa.
  3. Jasa keuangan ribawi, seperti perusahaan pembiayaan berbasis bunga dan bank berbasis bunga.
  4. Jual beli risiko yang mengandung unsur ketidakpastian (gharar) dan/atau judi (maisir), antara lain asuransi konvensional.
  5. Memproduksi, memperdagangkan, mendistribusikan, dan/atau menyediakan antara lain: barang atau jasa haram zatnya (haram li-dzatihi), barang atau jasa haram bukan karena zatnya (haram lighairihi) yang ditetapkan oleh DSN MUI, barang atau jasa yang merusak moral dan/atau bersifat mudarat.
  6. Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).

Pada poin pertama di atas, jelas sekali dalilnya dalam Al-Qur’an:

“…dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” (QS. al-Baqarah [2]: 275)

Dan untuk yang ke-2 di atas, kita bisa menggunakan dalil:

“…tidak halal keuntungan sesuatu yang tidak ditanggung resikonya, dan tidak halal (melakukan) penjualan sesuatu yang tidak ada padamu” (HR. Al Khomsah dari Amr bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya).

Sedangkan pada poin ke 4, kita merujuk pada Hadis Nabi saw:

“Rasulullah s.a.w melarang jual beli yang mengandung gharar” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Dan pemaparan lebih lanjut, kita bisa mengutip pernyataan dari salah satu pakar, yakni Pendapat Dr. Wahbah al-Zuhaili dalam Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu juz 3/1841:

“Bermuamalah dengan (melakukan kegiatan transaksi atas) saham hukumnya adalah boleh, karena si pemilik saham adalah mitra dalam perseroan sesuai dengan saham yang dimilikinya.”

Itulah 6 hal yang menjadi dasar penetapan hukum saham yang halal dan haram oleh OJK dan MUI. Dalam prakteknya, setiap perusahaan dapat diidentifikasi hukumnya dari dasar-dasar di atas.

B. Berdasarkan rasio keuangannya

Nah di sini menilai dari sisi keuangannya, terutama rasio dana pinjaman syariah yang dimiliki tiap emiten.

Oleh OJK mewajibkan bahwa total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha dan lain-lain tidak lebih dari 10%.

Atau, total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total aset dari perusahaan tidak lebih dari 45%.

Dengan kata lain, jika perusahaan yang sekalipun bisnisnya halal dan dijalankan dengan halal, tapi utangnya yang berbasis bunga lebih dari 45%, maka transaksinya bisa dikatakan sebagai jual beli saham yang haram.

2. Cara Penawarannya

Setelah memahami bagaimana bisnis dari perusahaan dilakukan sehingga bisa dikatakan sebagai saham yang halal atau haram, selanjutnya mari lihat sisi penawarannya, dalam hal ini IPOnya.

Sebelum itu, mari kita kenali dulu dua jenis saham berikut yang ada di bursa, berdasarkan hak atas pemiliknya.

Jadi di bursa saham, secara umum jenis saham dibagi menjadi dua, yaitu Saham Biasa dan Saham Preferen atau saham istimewa.

Keudunya masing-masing pemiliknya memiliki hak memperoleh dividend an capital gain. Yang membedakan dari keduanya adalah, dimana saham pereferen memiliki tambahan hak melebihi saham biasa.

Tambahan hak yang dimaksud adalah dimana pemegang saham preferen berhak atas dividen tetap dari bagi hasil usaha persahaan. Dan pada saat pembagian dividen untuk pemegang saham biasa, ia juga tetap memperoleh bagian dari dividen tersebut.

Di samping itu, dalam hal pengambilan suara dalam RUPS, si pemilik saham preferen lebih mempunyai hak. Dan juga jika seandainya perusahaan harus dilikuidasi, maka jenis saham ini lebih didahulukan haknya dibanding dengan pemilik saham biasa.

Nah, sudah paham kan jenisnya?

Sekarang mari kita lihat hukum trading saham dalam Islam dan MUI berdasarkan pemaparan jenis saham di atas.

Dan dasar yang paling kuat diambil untuk masalah ini adalah dari dalil kaidah Ushuliyah atau Kaidah Aghlabiyyah (kaidah umum).

Dalam kaidahnya disebutkan:

الخَرَاجُ بِالضَّمَانِ

Artinya:

“Berhak mendapatkan hasil atau manfaat itu disebabkan adanya kewajiban menanggung kerugian. (A. Gozali Ikhsani, Kaidah-kaidah hukum islam, (Semarang: Basscom Multimedia Grafika, 2015), hlm. 125)

Kaidah di atas berasal dari hadits Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Syafi’i, Imam Ahmad, An-Nasai, Ibnu Majah, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan juga Ibnu Hibban:

أن رجلا ابتاع عبدا فأقام عنده ماشاء الله ان يقيم ثم وجد فيه عيبافخا صمه الى الله عليه وسلم فرده عليه فقال الرجل: يارسول الله قد أستعمل غلا مى فقال “الخراج بالضمان”

“Seorang laki-laki membeli budak, lalu budak itu bermukim ditempatnya beberapa hari, kemudian dia mendapatkan cacat pada budak itu, lantas ia melaporkan kepada Nabi SAW, maka nabi menyerukan untuk mengembalikan budak itu ke penjualnya, maka laki-laki pembeli itu berkata: Ya Rasulallahn sesungguhnya aku sudah mempekerjakan budakku ini, lalu Nabi menjawab: Hak mendapatkan hasil/manfaat itu disebabkan ada keharusan menanggung kerugian.

Dari sini bisa kita ambil kesimpulan bahwa saham dari saham Preferen adalah haram karena adanya hak memperoleh bagi hasil yang telah ditentukan jumlahnya sebelum usaha dari perusahaan dijalankan. Ini jelas-jelas saham haram dalam Islam.

3. Dari sisi transaksi saham yang dilakukan

Tidak semua saham haram, dan begitupun sebaliknya, tidak semua saham halal. Di atas sudah disebutkan dua ketentuan umum hukum jual beli saham dalam Islam dan menurut MUI.

Pada karakteristik ketiga ini bukan lagi melihat pada sisi jenis saham dan perusahaannya, tapi bagaimana saham tersebut ditransaksikan.

Walau saham yang dibeli dari saham perusahaan yang halal bisnisnya, tapi jika kemudian ditransaksikan dengan cara yang haram maka dengan sendirinya menjadi haram juga.

Berikut beberapa jenis investasi saham haram yang merujuk pada Pasal 3 dari Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Pojk.04/2014 tentang penerapan Prinsip-Prinsip Syariah Di Pasar Modal:

Transaksi  di  Pasar  Modal  yang  bertentangan  dengan Prinsip-Prinsip Syariahdi Pasar Modal antara lain:

  1. Perdagangan dengan penawaran/permintaan palsu.hukum bermain saham dalam islam
  2. Perdagangan    yang    tidak    disertai    dengan    penyerahan barang/jasa
  3. Perdagangan atas barang (efek syariah) yang belum dimiliki
  4. Perdagangan  yang  memakai  informasi  orang  dalam  untuk memperoleh keuntungan atas transaksi yang dilarang
  5. Perdagangan dengan margin trading
  6. Perdagangan dengan tujuan penimbunan (Ihtikar)
  7. Melakukan    transaksi    yang    mengandung    unsur    suap (risywah)
  8. Transaksi   lain   di   Pasar   Modal   yang mengandung   unsur spekulasi (gharar), tadlis, taghrir, dan ghisys.

Kriteria dari peraturan OJK di atas masih dalam garis besarnya, belum termasuk contoh tradingnya, seperti Bai Najasy, Insider dan Margin Trading, Bai’ al-Ma’dum dan sebagainya. Tapi ini akan kita jelaskan di artikel selanjutnya.

Kesimpulannya, hukum investasi saham dalam Islam adalah halal selama jenis saham dan cara transaksinya dilakukan secara syariah. Tapi, hukum jual beli atau trading saham bisa berubah haram manakala kondisi sahamnya berubah dan tidak lagi diperjualbelikan dengan sistem syar’i.

By |Categories: Saham|Tags: |

About the Author:

Semua investasi ilmu dan ikhtiar ini hanya untuk mengabdi pada-Nya, sang Mahatahu. Dan goals terbesarku dalam petualangan di dunia maya adalah membangung lembaga pendidikan Qur’ani, semata menjalankan perintah Iqra'Nya, akar dari segala kesuksesan dunia dan akhirat.

Leave A Comment

[/fusion_text]
BUY AVADA NOW!
[/fusion_builder_column][/fusion_builder_row][/fusion_builder_container]

This Is A Custom Widget

This Is A Custom Widget

This Sliding Bar can be switched on or off in theme options, and can take any widget you throw at it or even fill it with your custom HTML Code. Its perfect for grabbing the attention of your viewers. Choose between 1, 2, 3 or 4 columns, set the background color, widget divider color, activate transparency, a top border or fully disable it on desktop and mobile.